ANAMNESIS
|
Nama : Tn S
|
Umur : 38 tahun
|
Jenis kelamin : laki-laki
|
Bangsal : Edelweis
|
IDENTITAS
Nama : Tn. S
Umur : 38 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Alamat :
Purworejo
Agama : Islam
MRS Tanggal : 7 Desember 2010
ANAMNESA (Auto Anamnesa)
Penderita dirawat di
bagian penyakit dalam RSSH karena sukar
membuka mulut disertai kaku badan, leher dan kejang-kejang seluruh tubuh yang
terjadi secara perlahan-lahan.
± 7 hari sebelum masuk rumah sakit
penderita mengeluh sulit membuka mulut, (hanya bisa masuk 1 jari tangan),
selain itu disertai kaku pada leher dan perut serta punggung keras seperti
papan. Penderita mengeluh demam, sakit kepala tidak ada. Penderita mengeluh mengalami
kejang di seluruh tubuh bila mendengar suara gaduh, terutama yang mengejutkan.
Penderita juga mengaku bagian tubuh yang kaku terasa pegal.
Penderita sebelumnya tidak pernah
digigit oleh anjing, kucing atau kera.
Riwayat luka (+) seminggu sebelum masuk rumah sakit. Sela antara jari
kelingking dan jari manis kaki kiri penderita tertusuk kayu sedalam 1,5 cm,
penderita kemudian mengobati luka tersebut dengan memberinya betadine dan luka
tidak ditutup. Riwayat hipertensi (-),
riwayat kencing manis (-).
Penyakit seperti ini diderita untuk
pertama kalinya.
PEMERIKSAAN
FISIK
STATUS PRAESENS
Status
Internus
Kesadaran :
GCS = 13 (E4M6V5)
Gizi :
cukup
Suhu Badan :
38,5 º C
Tekanan Darah : 160/100 mmHg
Nadi :
104 x/m
Pernapasan : 36 x/m
Berat Badan : tidak diukur
Tinggi Badan : tidak diukur
Jantung :
HR : 104 x/m,Murmur (-),gallop(-)
Paru-paru: vesikuler(+/+) n, ronkhi(-/-),wheezing (-/-)
Hepar : tidak teraba
Lien : tidak teraba
Status Lokalis
Muka : risus sardonikus (+)
Mulut : trismus (+)
Abdomen : perut tegang seperti papan (+)
Status Neurologikus
KEPALA
Bentuk :
brakhiocephalus Deformitas : -
Ukuran :
normal Fraktur : -
Simetris :
simetris Nyeri
fraktur : -
Hematom : - Pembuluh
darah : tak ada kelainan
Tumor :
- Pulsasi : -
LEHER
Sikap :
kaku Deformitas : -
Torticolis :
(-) Tumor : -
Kaku kuduk :
(+) Pembuluh
darah : -
Fungsi motorik Lka Lki Tka Tki
Gerakan Sulit Digerakkan
Kekuatan Sulit Digerakkan
Tonus ↑ ↑ ↑
↑
Klonus - -
Refleks fisiologis ↑ ↑ ↑ ↑
Refleks Patologis - - - -
LABORATORIUM ( 7
Desember 2010)
DARAH
Hb : 14,8 g/dl
Eritrosit : 4.890.000 g/dl
Leukosit : 16.500 /mm3
Diff Count : 0/0/0/78/14/8
Trombosit : 235.000 /mm3
Hematokrit : 41 %
BSS : 127 mg/ dl
Natrium : 142 mmol /L
Kalium : 3,2 mmol /L
URINE : Tidak Diperiksa
Warna : Sedimen
:
Kejernihan : -
Eritrosit :
Protein : -
Leukosit :
Reduksi :
LIQUOR
CEREBROSPINALIS : Tidak Diperiksa
Warna : Protein :
Kejernihan : Glukosa :
Tekanan : NaCl :
Sel : Queckensted :
Nonne : Celloidal :
Pandy : Culture :
PEMERIKSAAN
KHUSUS
Rontgen foto
cranium : -
Rontgen foto
thoraks : -
Rontgen foto
columna vertebralis : -
Electroencephalografi : -
Electroneuromyografi :
-
Electrocardiografi :
-
Arteriografi :
-
Pneumografi :
-
CT-Scan :
-
Lain-lain :
-
RINGKASAN
Identifikasi: Tn. S/ laki-laki/38 tahun/ dalam kota/ MRS 7 Desember 2010
ANAMNESA
Penderita dirawat di bagian penyakit dalam RSSH karena sukar membuka mulut disertai kaku
badan, leher dan kejang-kejang seluruh tubuh yang terjadi secara
perlahan-lahan.
± 7 hari sebelum masuk rumah
sakit penderita mengeluh sulit membuka mulut, (hanya bisa masuk 1 jari tangan),
selain itu disertai kaku pada leher dan perut serta punggung keras seperti
papan. Penderita mengalami
penurunan kesadaran. Penderita tidak mengeluh demam atau sakit kepala.
Penderita mengeluh mengalami kejang di seluruh tubuh bila mendengar suara
gaduh, terutama yang mengejutkan. Penderita juga mengaku bagian tubuh yang kram
terasa pegal.
Penderita sebelumnya tidak
mengalami demam, muntah, dan sakit kepala hebat. Penderita sebelumnya tidak
pernah digigit oleh anjing, kucing atau kera.
Riwayat luka (+) seminggu sebelum masuk rumah sakit. Luka terdapat di
sela antara jari kelingking dan jari manis kaki kiri penderita tertusuk kayu
sedalam 1,5 cm, penderita kemudian mengobati luka tersebut dengan memberinya
betadine dan luka tidak ditutup.
Penyakit seperti ini diderita
untuk pertama kalinya.
PEMERIKSAAN
Kesadaran :
kompos mentis fungsi sensorik:
tak ada kelainan
Suhu Badan : 39,8 º C fungsi
vegetatif: tak ada kelainan
Nadi :
104 x/m fungsi luhur: tak ada kelainan
Pernapasan : 36 x/m GRM:
kaku kuduk (+) Lasseque (+)
Kernig (+)
Tekanan Darah : 160/ 100 mmHg gerakan
abnormal: tidak ada
Status Lokalis:
Muka: risus sardonicus
Mulut: trismus (+)
Leher: kaku kuduk (+)
Abdomen: perut tegang seperti papan (+)
Status Neurologis:
Nn. Craniales: tak ada kelainan
Fungsi motorik Lka Lki Tka Tki
Gerakan Sulit Digerakkan
Kekuatan Sulit Digerakkan
Tonus ↑ ↑ ↑
↑
Klonus - -
Refleks fisiologis ↑ ↑ ↑ ↑
Refleks Patologis - - - -
DIAGNOSA
Tetanus
PENGOBATAN :
n Non Farmakologi:
Penderita ditempatkan di ruang isolasi
Diet cair
Debridement Luka
n Farmakologi:
1. IVFD RL gtt xx/menit
2. ATS 100.000 IU i.v (Skin Test) (1 ampul = 20.000 IU)
- Hari
I : 40.000 IU
- Hari
II : 40.000 IU
- Hari
III : 20.000 IU
3. Diazepam 100-200 mg/hari i.m/i.v
4. Metronidazol 500 mg/6 jam i.v atau 1 gr/12 jam i.v
5. Paracetamol 3 x 500 mg tab
PROGNOSA :
- quo ad vitam : bonam
- quo ada fungtionam : bonam
DISKUSI
Diagnosa Banding Etiologik:
- Meningitis:
Gejalanya: Pada
penderita:
- Gejala
umum, berupa: -
risus sardonikus
-
suhu
tubuh meningkat -
trismus (+)
(subfebris
sampai hiperpireksia) -
kaku leher
-
sakit
kepala -
perut tegang seperti papan
-
kaku kuduk -
kejang-kejang
-
dapat
sampai muntah dan kejang-kejang
- Gejala
Rangsang Meningial (+)
- Perubahan
Liquor Serebrospinalis
- Rabies
Gejalanya :
-
riwayat
digigit kucing, anjing atau kera
-
gejala
prodromal: demam-lesu-mual-tidak nafsu makan, rasa sakit/ sakit tenggorokan,
rasa kesemutan/ panas (terbakar), seperti ditusuk-tusuk, gatal,
berdenyut-denyut pada tempat bekas gigitan.
-
Gejala
Eksitasi: agitasi/ gelisah, hipersensitif, kejang ”stimulus sensitive
myoclonus”, hipersalivasi, hiperhidrosis, hiperlakrimasi dan pupil dilatasi.
Hidrofobi, erofobi, fotofobi, penurunan kesadaran.
-
Stadium
paralitik: kelumpuhan flaksid.
Pada pasien ini,
diagnosis banding rabies bisa disingkirkan.
- keracunan strychnine (antagonis reseptor glisin). Pada keadaan ini gejala klinis mirip dengan tetanus tetapi, tidak dijumpai trismus, dan ketegangan perut tidak terlalu nyata. Untuk membedakannya perlu dilakukan analisa biokimia stychine serum dan urin.
Pada pasien ini, diagnosis banding keracunan strychnine
bisa disingkirkan.
- Tetanus : riwayat luka, trismus, risus sardonikus, kaku kuduk, perut tegang seperti papan, opistotonus, kejang-kejang terutama bila ada rangsangan.
Jadi diagnosa etiologik tetanus pada penderita ini belum
dapat disingkirkan.
Tinjauan Pustaka
Pendahuluan
Tetanus merupakan penyakit
yang sering ditemukan, dimana masih terjadi di masyarakat terutama masyarakat
kelas menengah ke bawah. Di RSU Dr. Soetomo sebagian besar pasien tetanus
berusia > 3 tahun dan < 1 minggu (1).
Angka kejadian tetanus tinggi di
negara-negara berkembang, terutama disebabkan kontaminasi tali pusat, infeksi
telinga kronik, luka tusuk pada anak usia sekolah, sirkumsisi pada laki-laki,
kehamilan dengan abortus. Penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi, akan
tetapi angka kejadiannya masih tetap tinggi dengan angka kematian yang tinggi
pula (2). Di negara maju, kasus
tetanus jarang ditemui. Karena penyakit ini terkait erat dengan masalah
sanitasi dan kebersihan selama proses kelahiran. Kasus tetanus memang banyak
dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi
kesehatan rendah (4).
Batasan
Tetanus adalah suatu penyakit toksemik
akut yang disebabkan oleh Clostridium tetani, dengan tanda utama
kekakuan otot (spasme), tanpa disertai gangguan kesadaran (3).
Gejala ini bukan disebabkan
oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin)
yang dihasilkan kuman (1).
Etiologi
Clostridium tetani
termasuk kuman yang hidup tanpa oksigen (anaerob), dan membentuk spora.
Spora ini mampu bertahan hidup terhadap lingkungan panas, antiseptic, dan
jaringan tubuh, sampai berbulan-bulan. Kuman yang berbentuk batang ini sering
terdapat dalam kotoran hewan dan manusia, dan bisa menyebar lewat debu atau tanah
yang kotor, dan mengenai luka (5). Clostridium tetani merupakan kuman gram positif, menghasilkan
eksotoksin yang neurotoksik, dapat larut dan O2 labil (6).
Epidemiologi
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia,
terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah.
Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran
ternak sehingga resiko penyakit ini di
daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang
tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.
Port of entry tak selalu dapat diketahui
dengan pasti, namun dapat diduga melalui :
1. Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar.
2. Luka operasi yang tidak dirawat dan
dibersihkan dengan baik.
3.
OMP, caries gigi.
4. Pemotongan tali pusat yang tidak steril.
5. Penjahitan luka robek yang tidak steril (1).
Patogenesis
Spora kuman tetanus yang ada di
lingkungan dapat berubah menjadi bentuk vegetatif bila ada dalam lingkungan
anaerob, dengan tekanan oksigen jaringan yang rendah. Kuman ini dapat membentuk
metalo-exotosin tetanus, yang terpenting untuk manusia adalah tetanospasmin.
Gejala klinis timbul sebagai dampak eksotoksin pada sinaps ganglion spinal dan neuromuscular
junction serta syaraf otonom. Toksin dari tempat luka menyebar ke motor
endplate dan setelah masuk lewat ganglioside dijalarkan secara intraaxonal
kedalam sel saraf tepi, kemudian ke kornu anterior sumsum tulang belakang,
akhirnya menyebar ke SSP. Manifestasi klinis terutama disebabkan oleh pengaruh
eksotoksin terhadap susunan saraf tepi dan pusat. Pengaruh tersebut berupa
gangguan terhadap inhibisi presinaptik sehingga mencegah keluarnya
neurotransmiter inhibisi yaitu GABA dan glisin, sehingga terjadi eksitasi
terus-menerus dan spasme. Kekakuan dimulai pada tempat masuk kuman atau pada
otot masseter (trismus), pada saat toxin masuk ke sungsum belakang terjadi
kekakuan yang makin berat, pada extremitas, otot-otot bergaris pada dada, perut
dan mulia timbul kejang. Bilamana toksin mencapai korteks cerebri, penderita
akan mulai mengalami kejang umum yang spontan. Tetanospasmin pada sistem saraf
otonom juga berpengaruh, sehingga terjadi gangguan pada pernafasan,
metabolisme, hemodinamika, hormonal, saluran cerna, saluran kemih, dan
neuromuskular. Spame larynx, hipertensi, gangguan irama jantung, hiperpirexi,
hyperhydrosis merupakan penyulit akibat gangguan saraf otonom, yang dulu jarang
dilaporkan karena penderita sudah meninggal sebelum gejala timbul. Dengan
penggunaan diazepam dosis tinggi dan pernafasan mekanik, kejang dapat diatasi
namun gangguan saraf otonom harus dikenali dan dikelola dengan teliti (3).
Gejala
Klinis
Masa inkubasi tetanus umumnya
antara 3-12 hari, namun dapat singkat 1-2 hari dan kadang lebih satu bulan;
makin pendek masa inkubasi makin buruk prognosis. Terdapat hubungan antara
jarak tempat masuk kuman Clostridium tetani dengan susunan saraf pusat,
dengan interval antara terjadinya luka dengan permulaan penyakit; makin jauh
tempat invasi, masa inkubasi makin panjang (2).
Tetanus tak segera dapat terdeteksi karena masa inkubasi
penyakit ini berlangsung hingga 21 hari setelah masuknya kuman tetanus ke dalam
tubuh. Pada masa inkubasi inilah baru timbul gejala awalnya. Gejala penyakit tetanus bisa dibagi dalam
tiga tahap, yaitu :
-Tahap awal
Rasa nyeri punggung dan perasaan tidak nyaman di seluruh
tubuh merupakan gejala awal penyakit ini. Satu hari kemudian baru terjadi
kekakuan otot. Beberapa penderita juga mengalami kesulitan menelan. Gangguan
terus dialami penderita selama infeksi tetanus masih berlangsung.
-Tahap kedua
Gejala awal berlanjut dengan kejang yang disertai nyeri
otot pengunyah (Trismus). Gejala tahap kedua ini disertai sedikit rasa
kaku di rahang, yang meningkat sampai gigi mengatup dengan ketat, dan mulut
tidak bisa dibuka sama sekali. Kekakuan ini bisa menjalar ke otot-otot wajah,
sehingga wajah penderita akan terlihat menyeringai (Risus Sardonisus),
karena tarikan dari otot-otot di sudut mulut.
Selain itu, otot-otot perut pun menjadi kaku tanpa
disertai rasa nyeri. Kekakuan tersebut akan semakin meningkat hingga kepala
penderita akan tertarik ke belakang. (Ophistotonus). Keadaan ini dapat
terjadi 48 jam setelah mengalami luka.
Pada tahap ini, gejala lain yang sering timbul yaitu
penderita menjadi lambat dan sulit bergerak, termasuk bernafas dan menelan
makanan. Penderita mengalami tekanan di daerah dada, suara berubah karena berbicara
melalui mulut atau gigi yang terkatub erat, dan gerakan dari langit-langit
mulut menjadi terbatas.
-Tahap ketiga
Daya rangsang dari sel-sel saraf otot semakin meningkat,
maka terjadilah kejang refleks. Biasanya hal ini terjasi beberapa jam setelah adanya
kekakuan otot. Kejang otot ini bisa terjadi
spontan tanpa rangsangan dari luar, bisa pula karena adanya rangsangan
dari luar. Misalnya cahaya, sentuhan, bunyi-bunyian dan sebagainya. Pada
awalnya, kejang ini hanya berlangsung singkat, tapi
semakin lama akan berlangsung lebih lama dan dengan frekuensi yang
lebih sering.
Selain dapat menyebabkan radang otot jantung (mycarditis),
tetanus dapat menyebabkan sulit buang air kecil dan sembelit. Pelukaan lidah,
bahkan patah tulang belakang dapat terjadi akibat adanya kejang otot hebat.
Pernafasan pun juga dapat terhenti karena kejang otot ini, sehingga beresiko
kematian. Hal ini disebabkan karena sumbatan saluran nafas, akibat kolapsnya
saluran nafas, sehingga refleks batuk tidak memadai, dan penderita tidak dapat
menelan (5).
Secara klinis, tetanus dibedakan
atas :
1)
Tetanus lokal
Ditandai dengan rasa nyeri dan
spasmus otot di bagian proksimal luka; gejala ini dapat terjadi selama beberapa
minggu dan menghilang tanpa gejala sisa. Bentuk ini dapat berkembang menjadi
bentuk umum; kasus fatal kira-kira 1%.
2)
Tetanus umum
Merupakan bentuk tetanus yang
paling banyak dijumpai, dapat timbul mendadak, trismus merupakan gejala awal
yang paling sering dijumpai. Spasmus otot maseter dapat terjadi bersamaan
dengan kekakuan otot leher dan kesukaran menelan, biasanya disertai kegelisahan
dan iritabilitas. Trismus yang menetap menyebabkan ekspresi wajah yang
karakteristik berupa risus
sardonicus. Kontraksi
otot meluas, pada otot-otot perut menyebabkan
perut papan dan kontraksi otot punggung yang menetap menyebabkan opistotonus;
dapat timbul kejang tetani bermacam grup otot, menimbulkan aduksi lengan dan
ekstensi ekstremitas bawah. Selama periode ini penderita berada dalam kesadaran
penuh.
3)
Tetanus sefalik
Jenis ini jarang dijumpai; masa
inkubasi 1-2 hari, biasanya setelah luka di kepala, wajah atau otitis media;
banyak kasus berkembang menjadi tipe umum. Tetanus tipe ini mempunyai prognosis
buruk (2).
Komplikasi
1.
Laserasi otot
2.
Fraktur
3.
Eksitasi syaraf simpatis
4.
Infeksi sekunder oleh kuman
lain
5.
Dehidrasi
6.
Aspirasi (6).
Langkah Diagnostik
Anamnesis
·
Riwayat mendapat trauma (terutama luka tusuk), pemotongan dan perawatan tali
pusat yang tidak steril, riwayat menderita otitis media supurativa kronik
(OMSK), atau gangren gigi.
·
Riwayat anak tidak diimunisasi/ tidak lengkap imunisasi tetanus/ BUMIL/ WUS.
Pemeriksaan fisik
·
Adanya kekakuan lokal atau trismus.
·
Adanya kaku kuduk, risus sardonicus, opisthotonus, perut papan.
·
Kekakuan extremitas yang khas : flexi tangan, extensi kaki dan adanya penyulit (3).
Diagnosis Banding
1.
Infeksi : meningoensefalitis,
polio, rabies, lesi orofaring, peritonitis.
2.
Gangguan metabolik : tetani,
keracunan strichnin, reaksi fenotiasin.
3.
Penyakit SSP : status
epileptikus, perdarahan atau tumor.
4.
Gangguan psikiatri : histeria (6).
Web of Caution (Hubungan Sebab Akibat)
|
|
|
|
|
|
Tonus otot Menempel
pada Cerebral Mengenai Saraf
Simpatis
Menjadi kaku Kekakuan dan kejang khas -Keringat berlebihan
|
-Aritmia
|
|
|
Hipoksia
berat
¯ O2 di otak
-Ggn. Eliminasi -Ketidakefektifan
jalan -PK. Hipoksemia
-Ggn. Nutrisi
(< dr. kebut) jalan nafas -Ggn.
Perfusi Jaringan
-Gangguan
Komunikasi -Ggn. Pertukaran Gas
Verbal -Kurangnya
pengetahuan
Ortu
-Dx,Prognosa, Perawatan
(Sumber:
Asuhan Keperawatan dengan Tetanus.)
Tatalaksana
Terapi dasar tetanus :
Antibiotik diberikan selama 10 hari, 2 minggu bila
ada komplikasi
·
Penisillin prokain 50.000 IU/kg BB/kali i.m, tiap 12 jam, atau
·
Metronidazol loading dose 15 mg/kg BB/jam, selanjutnya 7,5 mg/kg BB tiap 6 jam
Catatan : Bila ada sepsis/pneumonia dapat
ditambahkan antibiotika yang sesuai.
Imunisasi aktif-pasif
·
Anti tetanus serum (ATS) 5.000-10.000 IU, diberikan intramuskular. Untuk
neonatus bisa diberikan iv; apabila tersedia dapat diberikan Human tetanus
immunoglobulin (HTIG) 3000-6000 IU i.m.
·
Dilakukan imunisasi DT/TT/DTP pada
sisi yang lain, pada saat
bersamaan.
Anti konvulsi
Pada dasarnya kejang diatasi dengan diazepam,
dosis disesuaikan dengan respon klinik (titrasi) :
·
Bila datang dengan kejang diberi diazepam :
-
neonatus bolus 5 mg iv
-
anak bolus 10 mg iv
·
Dosis rumatan maximal :
-
anak 240 mg/hari
-
neonatus 120 mg/hari
·
Bila dengan dosis 240 mg/hari masih kejang (tetanus sangat berat), harus
dilanjutkan dengan bantuan ventilasi mekanik, dosis diazepam dapat
ditingkatkan sampai 480 mg/hari, dengan atau tanpa kurarisasi.
·
Diazepam sebaiknya diberikan dengan syringe pump, jangan dicampur dalam botol
cairan infus. Bilamana tidak ada syringe pump, diberikan bolus tiap 2 jam (12
x/hari)
·
Dapat dipertimbangkan penggunaan anti konvulsan lain, seperti magnesium sulfat,
bilamana ada gangguan saraf otonom.
Perawatan luka atau port d’entree yang dicurigai,
dilakukan sekaligus dengan pembuangan jaringan yang diduga mengandung kuman dan
spora (debridemant), sebaiknya dilakukan setelah diberi antitoksin dan
anti-konvulsi.
Terapi suportif
·
Bebaskan jalan nafas
·
Hindarkan aspirasi dengan menghisap lendir perlahan-lahan &
memindah-mindahkan posisi pasien)
·
Pemberian oksigen
·
Perawatan dengan stimulasi minimal
·
Pemberian cairan dan nutrisi adekuat, bila perlu dapat dipasang sonde
nasogastrik, asal tidak memperkuat kejang
·
Bantuan nafas pada tetanus berat atau tetanus neonatorum
·
Pemantauan/monitoring kejang dan tanda penyulit
Tetanus ringan dan sedang
Diberikan pengobatan tetanus dasar
Tetanus sedang
·
Terapi dasar tetanus
·
Perhatian khusus pada keadaan jalan nafas (akibat kejang dan aspirasi)
·
Pemberian cairan parenteral, bila perlu nutrisi secara parenteral.
Tetanus berat/sangat berat
·
Terapi dasar seperti di atas
·
Perawatan dilakukan di ICU, diperlukan intubasi atau tracheostomi
·
Balans cairan dimonitor secara ketat.
·
Apabila spasme sangat hebat (tetanus berat), perlu ventilasi mekanik
dengan pankuronium bromida 0,02 mg/kg bb intravena, diikuti 0,05 mg/kg bb/kali,
diberikan tiap 2-3 jam.
·
Apabila terjadi aktifitas simpatis yang berlebihan, berikan b-blocker seperti
propanolol/a dan b- blocker labetalol (3).
Pencegahan
1. Perawatan luka harus dicegah timbulnya
jaringan anaerob pada pasien termasuk adanya jaringan mati dan nanah.
2.
Pemberian ATS profilaksis.
3.
Imunisasi aktif.
4.
Khusus untuk mencegah tetanus
neonatorum perlu diperhatikan kebersihan pada waktu persalinan terutama alas
tempat tidur, alat pemotong tali pusat, dan cara perawatan tali pusat.
5. Pendidikan atau penjelasan kepada orang
tua mengenai kebersihan individu dan lingkungan serta cara pemeriksaan dan
perawatan di RS dan perlunya pemeriksaan lanjutan (1).
I. Imunisasi aktif
a. Imunisasi dasar DPT diberikan tiga kali sejak usia 2 bulan dengan
interval 4-6 minggu, ulangan pada umur 18 bulan dan 5 tahun (lihat Bab Jadwal
Imunisasi).
b. Eliminasi tetanus neonatorum dilakukan dengan imunisasi TT pada ibu
hamil, wanita usia subur, minimal 5 x suntikan toksoid. (untuk mencapai tingkat
TT lifelong-card).
II. Pencegahan pada luka
- Luka dibersihkan, jaringan nekrotik dan benda asing dibuang
- Luka ringan dan bersih
-
Imunisasi lengkap : tidak perlu ATS atau tetanus imunoglobulin
-
Imunisasi tidak lengkap : imunisasi aktif DPT/DT.
·
Luka sedang/berat dan kotor
-
Imunisasi (-)/tidak jelas : ATS 3000-5000 U, atau tetanus imunoglobulin
250-500 U. Toksoid tetanus pada sisi lain.
-
Imunisasi (+), lamanya sudah > 5 tahun : ulangan toksoid, ATS 3000-5000 U,
tetanus imunoglobulin 250-500 U (3).
Monitoring
I. Sekuele
- Spasme berkurang setelah 2-3 minggu, namun kekakuan dapat terus berlangsung lebih lama.
- Kekakuan dapat tetap berlangsung sampai 6-8 minggu pada kasus yang berat.
- Gangguan otonom biasanya dimulai beberapa hari setelah kejang dan berlangsung selama 1-2 minggu.
II. Tumbuh Kembang
- Infeksi tetanus pada anak merupakan infeksi yang akut sehingga relatif tidak mengganggu tumbuh kembang anak.
- Sedangkan pada tetanus neonatorum, dapat terjadi gangguan tumbuh kembang oleh karena hipoksia yang berat (3).
DAFTAR PUSTAKA
1. Ningsih, S., and Witarti, N.,
2007. Asuhan Keperawatan Dengan Tetanus. Available from : www.pediatrik.com/perawat_pediatrik/061031-joiq163.doc. Accested
: Oct 16, 2007.
2. Lubis, U. N., 2004. Tetanus
Lokal pada Anak. Available from : www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15. Accested
: Oct 16, 2007.
3. Ismoedijanto,
and Darmowandowo, W., 2006. Tetanus. Available from : www.pediatrik.com. Accested : Oct 16, 2007.
5. Tami, 2005. Tetanus,
Infeksi yang Mematikan. Available from : www.jilbab.or.id/content/view/456/36/. Accested
: Oct 16, 2007.
6. Suraatmaja, S., and
Soetjiningsih, 2000. Pedoman Diagnosis
dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak RSUP Sanglah. Fakultas Kedokteran Udayana.
Denpasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar